Komodorai, Siluman Khas Antapada - CODEX EVERNIUM Monstropedia Special Edition
- Andry Chang
- Nov 15, 2020
- 4 min read

CODEX EVERNIUM – MONSTROPEDIA SPECIAL EDITION
KOMODORAI
Tipe atau Jenis:
Siluman manusia-komodo
Habitat Asli atau Tempat Asal:
Hutan hujan tropis di Kepulauan Rainusa Timur, wilayah mirip Pulau Komodo dan Nusa Tenggara Timur di Terra Everna, tepatnya di Pulau Komodorai.
Ciri-ciri Fisik:
- Bertubuh tinggi-besar, bila berdiri dengan postur biasa yaitu agak membungkuk, tinggi badan normal komodorai jantan berkisar antara 180 hingga lebih dari 200 sentimeter. Sementara tinggi badan normal komodorai betina adalah sekitar 175 sampai 195 sentimeter.
- Bagian kepala sampai leher yang memanjang dan ekor komodorai mirip kadal besar yang disebut komodo, yang juga ada di Terra Everna. Sedangkan batang tubuh, tangan dan kakinya mirip anggota tubuh manusia.
- Kulit dada dan perut komodorai amat tebal dan keras, sisanya bersisik sehingga komodorai tidak perlu mengenakan pakaian tambahan, kecuali untuk hiasan atau penanda status sosial. Segala kulit tebal dan sisik itu sedikit melambankan pergerakan komodorai, namun itu bisa diatasi dengan latihan keras atau diimbangi dengan kekuatan luar biasa yang dimilikinya.
- Seperti kadal pada umumnya, komodorai adalah siluman berdarah dingin.
Ciri-ciri Khas:
- Sebagai ras siluman, komodorai memiliki kekuatan besar dari sisi komodo dan kecerdasan manusia. Walaupun kelihatan seperti sosok primitif karena berpakaian minim dan sederhana, komodorai dapat menjadi amat kuat, amat cerdas atau keduanya.
- Karena kekuatan dan kecerdasannya, komodorai kadang cukup menonjol bilamana berbaur di kalangan manusia dan ras-ras lainnya, termasuk siluman. Tak jarang pula komodorai yang menjadi komandan pasukan kerajaan. Bahkan ada pula yang menjadi atlit dan menjadi satu tim lima sosok serba komodorai dari Rainusa dalam cerpen “Galahasin”, Antologi “Everna Saga: Barat dan Timur” karya Andry Chang.
- Dari segi kecerdasan, para komodorai yang menonjol mampu menguasai satu atau lebih senjata tertentu dengan teknik yang mendalam. Misalnya tombak, kapak, pedang, gada, golok besar atau palu besar.
- Kelemahan utama komodorai terletak pada indera penglihatannya. Akibatnya, komodorai kurang piawai dalam menggunakan senjata-senjata jarak jauh seperti busur-panah dan sejenisnya. Mereka juga kadangkala terkesan kurang waspada, sulit mengantisipasi serangan dan pergerakan musuh yang cepat, apalagi secepat bayangan seperti ninja.
Fisiologi:
Secara fisiologis, komodorai adalah makhluk karnivora dan mereka bukan pemakan manusia. Seiring berkembangnya kebudayaan, komodorai juga makan sayuran, asal disajikan bersamaan dengan daging.
Spiritualitas:
Karena makhluk siluman setengah manusia dianggap sama-sama memiliki roh di Terra Everna, ras-ras siluman termasuk komodorai menyembah Mahadewi Bunda Alam Enia, yang di Antapada disebut Sang Srisari. Selain itu, sebagian komodorai juga menyembah sosok satwa dewata bergelar Banaspati Raja, yaitu Barong dari Rainusa Barat. Bagi mereka, Barong adalah raja segala kaum siluman di Antapada karena ia adalah satwa dan banaspati terkuat. Pengecualiannya adalah kaum komodorai yang tinggal di Negeri Siluman, Watas di Akhsar, mereka juga mengakui Rai Taksaka, Raja Watas yang adalah siluman manusia yang dapat berubah menjadi ular naga sebagai raja, walaupun Taksaka tidak sekuat Barong.
Sistem Reproduksi:
Kebanyakan ras siluman setengah manusia mengikuti cara reproduksi manusia dan mamalia, yaitu lewat proses melahirkan. Komodorai memiiki sistem reproduksi yang unik, yaitu “melahirkan dalam telur”. Jadi selama tiga bulan pertama kehamilan, janin dikandung dalam rahim Induknya sambil cangkang telur dibentuk perlahan-lahan. Lalu di akhir bulan ketiga atau awal bulan keempat, telur utuh dengan cangkang lunak “dilahirkan” oleh sang induk. Selanjutnya telur dijaga di tempat hangat di bawah tumpukan daun kering dan dierami secara teratur oleh induknya selama kurang-lebih tiga minggu sampai satu bulan hingga menetas. Selanjutnya, bayi komodorai yang jauh lebih kecil daripada bayi manusia dirawat dan dibesarkan dengan air susu induknya hingga mampu mencerna makanan lain.
Sejarah dan Persebaran:
- Komodorai adalah hasil evolusi dari makhluk yang satu tingkat di bawahnya, yaitu kadal-naga komodo. Konon, komodorai tercipta dari percampuran gaib antara gen manusia sakti atau penyihir dengan gen naga komodo, yang prosesnya masih diperdebatkan hingga kini.
- Penjelasan yang paling ilmiah komodorai adalah komodo yang berevolusi dari yang merayap dengan empat kaki menjadi berjalan dengan dua kaki belakang. Sementara kedua kaki depan beralih fungsi menjadi tangan dan otaknya yang berkembang, membesar jadi makin mendekati otak manusia dan melebihi kecerdasan kera.
- Sayangnya, perkembangbiakan komodorai yang terkontrol oleh norma dan prinsip pernikahan menyebabkan populasi komodorai jadi jauh lebih sedikit dibandingkan komodo yang berkembang biak secara hewani, tak terkendali. Satu keluarga komodorai rata-rata memiliki tiga-empat anak, sedangkan komodo rata-rata enam sampai delapan anak.
- Karena populasi yang jauh lebih sedikit, lambat-laun komodorai makin terdesak oleh komodo di Pulau Komodorai, sehingga banyak yang merantau. Di Zaman Sihir, populasi komodorai di Pulau Komodorai terhitung langka dan nyaris punah. Suku Komodorai yang semula utuh dan bersatu jadi tercerai-berai, berkelana ke pulau-pulau, bahkan negeri-negeri lain di Antapada. Yang paling jauh adalah ke Negeri Siluman, Watas dalam wilayah Kerajaan Akhsar di Antapada.
Tokoh-Tokoh Legendaris: (Mengandung spoiler!)
- Dhaka Komodorai:
Karena populasinya yang sedikit, kebanyakan komodorai memakai nama belakang “Komodorai” setelah nama panggilan atau nama lahirnya. Dhaka adalah tokoh komodorai yang paling terkenal dan legendaris. Namun, masih diperdebatkan apakah ia dapat dianggap pahlawan atau justru adalah penjahat. Itu karena ia terlibat sebagai pemicu “Bencana Cincin Api”. Ia dan kelompoknya dengan sengaja menyebabkan enam gunung berapi di seluruh Antapada meletus berturut-turut, menjatuhkan korban jiwa yang tak terhitung banyaknya.
Namun, yang lebih banyak diceritakan adalah kiprahnya sebagai salah satu dari lima jawara Geng Dabongsang, lalu membelot, membantu meletuskan Gunung Tubar’e dan memusnahkan Dabongsang, kota para penjahat.
Dhaka lalu bertemu keluarganya dan kehilangan hampir semuanya di Gunung Dantonu. Akhirnya, ia sendiri gugur dalam pertarungan melawan titisan dewa, Vajra di Istana Mantikei Labih di Hamentane, ibukota Kerajaan Kalingga. Entah ia adalah penjahat atau tidak, legenda Dhaka Komodorai terus diceritakan turun-temurun, tak hanya di kalangan kaum komodorai saja, tapi juga di kalangan manusia di seantero Antapada dan negeri-negeri lainnya di Terra Everna.
- Dibu Anam, Rambu, Tikha dan Kiro:
Dibu Anam adalah istri atau pasangan Dhaka Komodorai. Mereka mempunyai tiga anak, yaitu dua jantan, Rambu dan Kiro dan satu betina, Tikha. Mereka adalah pemimpin rombongan pengungsi Suku Komodorai dari Pulau Komodorai yang terdampar di Pulau Akhsar. Lalu mereka ditampung oleh Rai Taksaka, raja negeri siluman, Watas. Mereka diberi wilayah di lereng Gunung Dantonu dan bertugas menguji siapapun yang hendak melintas.
Akhirnya Dibu Anam, Rambu, Tikha dan Kiro membantu Dhaka melawan penjajah Watas, yaitu Naga Petir Vrithra. Di antara mereka berempat, hanya Kiro dan Dhaka yang selamat dari pertarungan itu. Kiro lalu ditunjuk sebagai Kepala Suku Komodorai yang baru, sementara Dhaka melanjutkan perjalanannya.
Pencipta asli: Andry Chang
Muncul di: Novel Everna: Cincin Api, Antologi Everna: Utara dan Selatan dan Antologi Everna: Barat dan Timur.
Comentarios